Monday, 12 August 2024

Si Ratu Sampah Sekolah



Sampah masih menjadi persoalan yang belum dapat di selesaikan oleh pemerintah Indonesia. Pembuangan dan pengelolahan sampah masih menjadi PR besar untuk bangsa ini. Bahkan masyarakat juga kian tidak perduli terhadap sampah yang mereka hasilakan dan mereka buang di sembarang tempat. Namun tidak dengan Amilia Agustin, merupakan inisiator Program Ratu Sampah Sekolah yang diakui dan diberikan penghargaan Semangat Astra Terpadu untuk (SATU) Indonesia Awards 2010 dalam kategori lingkungan.


Rasa peduli Amilia terhadap lingkungan memotivasinya untuk melakukan tindakan yang bermanfaat. Awalnya, ia melihat sampah berserakan di sekitar sekolahnya dan memiliki keinginan untuk menjaga lingkungan sekitarnya agar bersih dan bebas dari sampah.

Hal tersebutlah yang mendorong Amilia dan teman-temannya untuk membentuk komunitas pengelola sampah berbasis sekolah dengan program "Go to Zero Waste School," yang kemudian membuatnya dikenal sebagai "ratu sampah sekolah."

Dalam proyek pengelolaan sampah ini, mereka mengumpulkan sampah, memilahnya menjadi sampah anorganik, organik, tetra pak, dan kertas, lalu mendaur ulangnya menjadi barang yang berguna atau memiliki nilai ekonomis. Misalnya, sampah organik diubah menjadi pupuk kompos, dan limbah kain perca digunakan untuk membuat tas yang memiliki nilai ekonomis.

Amilia juga berhasil menjadikan SMP Negeri 11 Bandung sebagai sekolah sehat yang menjadi ikon di Bandung melalui program pengelolaan sampahnya. Selain itu, ia juga membina empat sekolah negeri lainnya dalam mengelola sampah.


Tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah, Amilia juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan prinsip-prinsip sosial entrepreneurship.


Saat ia pindah ke Denpasar pada tahun 2014 untuk melanjutkan kuliah di Universitas Udayana.

Bahkan dirinya saat di Bali, ia ikut membentuk komunitas peduli lingkungan bernama "Udayana Green Community" yang melakukan berbagai kegiatan, seperti mengajar di sekolah-sekolah dan melatih warga desa dalam pengelolaan sampah terpadu.

Amilia Agustin telah membuktikan bahwa merawat lingkungan bukanlah hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa, melainkan semua orang dapat melakukannya dengan kreativitas dan konsistensi.





Share:

Lestari Budayaku

Hallooooooo....
Tulisan kali ini akan diwarnai dengan beberapa unggahan video yang didrag dari akun youtube pribadi. Karena aku akan sedikit bercerita tentang kesan - kesan selama menjalani rangkaian acara pernikahan.

"gileeee natia mentang - mentang baru nikah, ngebahasnya nikahan muluuuuu!!"
hahaha, mohon maaf nih, beneran tulisan kali ini murni cuma pengen cerita, siapa tau temen - temen ada yang terinspirasi dan pengen juga (pengen nikah maksudnya) hehe.

Berawal dari bulan November 2017 lalu. (pertemuan keluarg aku dan adit, ngomongin nikah tanggal berapa, sama sekali gak ngomongin mau pake adat apa, semuanya kayak diserahin ke kita berdua gitu, akhirnya dari pertemuan itu diputuskan kalau tanggal 5 Mei 2018 akan ada acara lamaran sekaligus seserahan, supaya praktis. dan tanggal 30 juni di pilih sebagai tanggal akad dan resepsinya)

mulai lah aku berdua sama adit berdiskusi tentang persiapan pernikahan, yang dimulai dari "pake adat apa nih kita" . cukup lama untuk menentukan perkara mau pake adat apa karena mengingat adit itu anak bungsu, yang berarti keluarganya pengen "udah nih terakhir, gak bakalan nikahin lagi, pengen pake ini/itu dong". sedangkan aku anak tunggal perempuan, yang sudah dapat di pastikan bapak dan ibu gue hanya menikahkan anak satu kali seumur hidup mereka. 

awalnyaa adit ngalah soal pake adat apa ya, "yaudah pake adat kamu aja". tapi masalah lagi mau pake yang mana nih, papaku minang, dan mama dari gorontalo

Setelah berdiskusi dan tanya sana sini. Akhirnya kita berdua memutuskan untuk resepsi pakai adat gorontalo supaya aku bisa ngerasain Nari (FYI: untuk pengantin perempuan adat gorontalo itu biasanya ada tari Pengantin yang di dampingin sama wanita yang sudah menikah, namanya Tari Tidi Lo Polopalo, nah kalau mauliat filosofinya ada disini *link*)

Terus, untuk akad nikah pakai adat Minang. Karena dari dulu pengen banget ngerasain pake suntiang hehe.. dan biar juga sekalian adit dikasih Gelar adat gitu. (FYI: untuk laki-laki diluar suku minang yang nikah sama wanita berdarah keturunan minang akan di kasih gelar dari tetuah Adat)

Dan untuk lamaranya kita pakai Adat Betawi. Karena biar seru kan ada palang pintu dan roti buayanya.

Untuk vendor, kita ga terlalu banyak pakai vendor dari luar. Karena mamaku yang zupper kreatif jadi untuk lamarah dekorasinya di buat sendiri haha
Ini nih vendor - vendor yang kita pake

Lamaran
Venue : Rumah HUK Cempaka Putih (sudah inlude sama makanan dan minumannya juga)
Baju : di bikinin sama Modiste citra ini instagramnya (Modiste Citra)
Headpice : Pinjem di sanggar apa gitu lupa namanya hehe
Makeup : Sendiri 😅
Palang pintu :
Dekorasi : Pribadi
Seserahan : 


Akad Nikah
Venue : Hotel Grand Cempaka
Dekorasi : 
Busana & Attire : Mayang Taurai (instagram )
Busana orang tua : 
(Copy dari IG)
Share:

CERITA INGIN HAMIL

Pagi itu di awal januari 2018, setelah minggu lalu ngobrol sama salah satu sepupuku tentang kehamilan. Ada beberapa orang yang sejak awal - awal masa pernikahan sudah memutuskan untuk kedokter, apakah itu untuk program hamil atau hanya ngecek kesehatan area reproduksinya aja. Dari situ aku terinspirasi untuk coba pergi ke dokter, toh ga ada salahnya kalau check up ke dokter dan program hamil di dokter.

Akhirnya malam hari pas lagi bobo - boboan lucu di kamar aku bilang sama suami kalau kita program hamil yuk ke dokter. Awalnya yahh suami bilang ngapain kita juga baru 7bln nikah sabar aja dulu, nikmatin aja dulu pacaran kayak gini. Tapi kan ga ada salahnya juga kita check mana tau ada apa - apa, dan dengan beberapa kalimat - kalimat rayuan akhirnya suami mau juga diajak ke dokter. hehehe

"Sebenernya aku yang khawatirin itu kista dan myom karena keseringan browsing kalau wanita ga bisa hamil kebanyakan karena dua penyebab itu, ya aku sebagai wanita dan belum hamil sampe di bulan ke7 pernikahan kan was - was juga ya, takut kenapa- kenapa. Yaaah kalau satu atau dua orang saudara yang mempertanyakan udah hamil belum atau udah ada tanda - tanda belum, atau yang lebih ekstream lagi nanya kamu ga ada penyakit kan dan haidnya lancar. Emang awal - awal agak nyelekit juga dihati pertanyaan gitu, cuma makin lama makin biasa aja dan yaaah dianggap angin lalu aja,"

Tips, untuk temen - temen mungkin yang mengalami hal yang sama kayak gini. bisa di ambil positifnya aja mungkin orang - orang yang nanya seperti itu nungguin anak kita, ga sabar pengen liat atau ga sabar pengen gendong, atau dia mungkin ga ada bahan pertanyaan untuk nyapa ataupaun ngobrol sama kita ya kan bisa aja looh..

Oke lanjut ya, singkat cerita setelah liat - liat jadwal praktik dokter dan rekomendasi dokter mana yang bagus akhirnya aku dan suami memutuskan ke dokter Ni Made Dessy, yang praktek di rumah sakit Hermina Bekasi.

Cara pendaftaranya sama aja kayak di rumah sakit Hermina lainnya, untuk buat janji dokter bisa lewat telfon ke nomor 1500488 nanti ditanya kok mu ke RS Hermina di daerah mana, ke dokter siapa, dan nanti kita bisa minta info jadwal dokternya hari apa aja dan jam berapa. Saran aku sih kalau mau daftar liat dulu di websitenya RS Hermina, nama dokternya dan waktu prakteknya, waktu itu aku buka websitenya di https://www.herminahospitalgroup.com/
disitu kita bisa milih dokter terus dokternya praktek di RS Hermina mana, dan waktu prakteknya kapan aja, supaya pas telfon ke call center RS Hermina gak kelamaan ngomongnya, kan sayang juga pulsanya hehe..

Waktu aku telfon call center RS Hermina karena aku udah tau mau ke dokter Ni Made Dessy Suratih, hari sabtu jam 15.00 di Hermina Bekasi jadi tinggal ngomong gitu. nanti diarahkan untuk isi nama dan nomor telfon. Terakhir langsung di bilang kalau aku dapet nomor 8, tapi karena aku pasien baru jadi harus dateng lebih awal.

Hari Sabtu jam 13.30 udah sampe di Hermina Bekasi, ke lantai 3 untuk daftar pasien baru, dan setelah itu ke lantai 4 untuk di timbang berat badannya dan di tensi sambil nunggu giliran di panggil. Lucunya dilantai 4 itu ga ada tulisan khusus Poli kandungan atau apalah, akhirnya aku dan suami salah masuk ruangan ke Klinik Edelweiss khuss bayi tabung, ya kan pikirku oh kalau mau program hamil sama aja kayak bayi tabung, lumayan lama duduk disitu sampai ada suster yang lewat aku nanya dan ternyata salah doong hehe, itu khusus ruangan untuk bayi tabung. wadaawww..

Lalu singkat cerita aku dan suami sudah duduk di dekat ruangan dokternya, dan gak lama nama ku di panggil.
Awalnpertama pas masuk ruangan dokternya nanya sambil senyam senyum "ada apa ini?", "ini dok kita mau program hamil", "memang udah berapa lama nikah", "7bulan dok" eh bukannya jawab malah ketawa dokternya "yaampun baru 7bln, gasabar ya pasti si istri ga sabar ya pak" sambil ngomong ke suami. "Ibu sama bapak Umur berapa sekarang?" "Saya 24 tahun, suami saya 25 tahun" eh malah tambah ketawa lagi dokternya hahahah. Singkat cerita setelah pertanya-pertanyaan dan diselingin ketawa dan ledekan dari dokternya, aku di periksa. Hasilnnya alhamdulillah aku ga ada Kista, Myom dan banyak sel telurnya.

Dokternya ngejelasin bahwa ini "saya kasih obat ya tapi minumnya satu kali sehari biar tenang kalian. Dan ini saya kasih rujukan test Lab tapi di testnya 5 bulan lagi dan kalau belum hamil baru balik lagi, awas kalau sebelum 5 bulan udah balik ya hahaha" sambil ketawa dokternya

Nah obatnya itu yang buat istri, Folavot 400gram (minumnya 1x1hari), buat suami (minumnya juga 1x1hari) aku ga tau harga persatu jenis obatnya berapa, pokoknya folavit 30butir dan ... 30butir juga totalnya Rp 295.000 dan biaya Dokternya Rp 499.000

Dokter Ni Made ini baik banget, awalnya aku sama sekali ga punya bayangan gimana ini kalau ngomongin masalah daerah kewanitaan sama orang lain, ternyata orangya asik banget. Rekomen buat temen - temen yang was - was kok belum juga hamil, dokter Ni Made ini bisa ngejelasin dan ngedengerin semua curhatan kita. Dan baiknya lagi dokternya nanya "apalagi yang mau ditanyain"

Pulang dari sana dengan membawa hasil USG dan obat akhirnya aku bisa tenang, ga mikirin lagi ada sakit apa atau kenapa ya..

Dan hari ini gue nulis tanggal 12 Februari 2018 udah 3 kali minum obat. Semoga ini jalan Allah dan semoga aku dan suami di percaya Allah untuk di titipkan keturunan. Aamiin

Sekarang tanggal 14 Februari 2018. Semestinya kalau menurut perhitungan kalender aku sudah mualai haid tanggal 13 kemarin. Berharap sih pasti tapi minta di lapangkan hatinya sama Allah SWT kalau memang belum rejekinya bulan ini untuk hamil, karena Allah yang maha tau mana yang terbaik untuk umatnya. Selebihnya coba mengalihkan pikiran untuk gak nginget-nginget ini, takutnya kayak yang udah - udah di bulan- bulan sebelumnya telat seminggu taunya karena stress nginget-nginget kok belum haid ya, hamil nih pasti hahaha. Sekarang di bawa santai dan coba buat ga dipikirin. Semoga Allah Percaya sama aku dan suami untuk dititipin keturun ya bulan ini. Aamiin :)


Hari ini 16 februari 2018 dan aku masih belum haid, akhirnya ku putuskan untuk test pack. Ternyata hasilnya masih negatif hehe.. padahal udah seneng aja kayak orang-orang udh telat 3 hari langsung positif . Yasudah mungkin cuma terlambat haid biasa aja..

Hari ini 19 februari 2018 ternyata aku haid hehehe... pagi - pagi abis nyiapin sarapan dan perlengkapan suami kerja, masuk kamar mandi niatnya mau sholat duha, taunya haid hihihihi... mungkin belum rejeki ku dan suami di bulan ini 
Share:

Sunday, 30 September 2018

Me-nikah

Berpikiran untuk menikah dizaman sekarang ini mungkin terlalu beresiko.

Masalahnya, banyak aspek yang harus di pertimbangkan. Belum ngejar karier, belum siap ngejalanin hubungan serius, masih asik sendiri ga ada yang ngatur - ngatur, nanti gak bisa seneng-seneng nonton midnight, jalan - jalan nyari diskonan, nongkrong bareng temen - temen, belum cukup ilmu buat ngurus suami dan rumah tangga. Masih banyak lagi deh ketakutan – ketakutan yang terlintas di pikiran gue saat itu.

Percayalah girls itu cuma parnoan gue doang, semuanya ternyata lebih seru di lakuin berdua bareng suami (bukan pacar ya hehe).
menikah ga separah yang di bayangin kok, sejujurnya ketakutan itu yang gue rasain awal dulu sebelum menikah. Apa iya gue bisa?, Apa iya hari - hari gue bakalan seseru dulu waktu masih lajang? 

Tapi ternyata menikah itu banyak benefitnya loohh

Buat yang suka anak bayi, sekarang bisa bikin bayi sendiri made by custom (custom-made) wkwkwk..

Kalau dulu jarang banget ada temen curhat yang tau semua cerita dari A-Z isi hati gue. Sekarang ada suami temen curhat yang setia ngedengerin cerita gue, yaa mungkin kadang dia juga ga ngerti karena gue ngomongnya kecepetan atau berbelit – belit. Tapi percayalah suami yang baik itu akan ngangguk dan rela ngedengerin meskipun dia ga paham dan dia ngantuk "sebenernya istri gue cerita apa sih?!" hahaha.

Kalau mikirnya dengan adanya suami jadi ga asik karena pasti dia kaku banget ga seseru ngobrol bareng sahabat – sahabat gue. Ternyata dong yaaa dia lebih gokil, sering banget kita cerita dari ketawa sampe nangis, bahkan dari nangis sampe ketawa.

Salah satu yang paling berubah untuk pertama kalinya adalah setelah 23 tahun gue menikmati kamar sendirian (maklum namanya juga anak tunggal),  akhirnya gue punya room mate
Eitss.. ga sesumringah gitu juga gue menyambut room mate baru ini, masalahnya gue pasti risih karena seumur-umur gue ga pernah berbagi kamar, apalagi tempat tidur sama orang lain.
Dan bener kan, di minggu – minggu pertama, ga cuma soal berbagi tempat tidur, ternyata harus berbagi soal isi lemari juga hahaha  (apalagi rak sepatu, you know girls sepatu laki segede - gede apa kannn). haha

Tapi dari semua itu yang gue syukuri sudah memutuskan menikah adalah... Pahala

Gimana ga bersykur, dulu yang tadinya punya pacar ngajak jalan di mall, pegang-pegangan, liat-liatan aja dosa cuy. Sekarang kalau mau cari pahala gampang, pegang aja tangan suami, pijitin, liatin matanya yang udah capek seharian di marahin bos, macet-macetan, kerja lembur, belum lagi sampe rumah udah di titipin jajanan sama istri "bang mampir beli potabee sama susu ultra ya" Kasian kan ya. Haha.
Overall pas ni bulan ke3 gue punya suami. semuanya masih baik - baik aja dan aman terkendali sih ya.. (apa karena baru 3bulan, yah semoga bulan – bulan dan tahun - tahun selanjutnya semakin indah yeee)

Untuk suamiku (kalau baca) terimakasih untuk cintanya, terimakasih untuk kasih sayangnya, terimakasih untuk perjuanganya, terimakasih untuk setiap lelah yang kamu lewati demi bahagiaku.  Semoga pernikahan ini jadi ladang amal dan pahala untuk kita. Aamiin

**dan bagi yang jomblo segera di dekatkan jodohnya. (ini gue doain juga)**
30 September 2018









Share:

Tuesday, 5 September 2017

Setelah Hibernasi


Assalamualaikum, tanggal berapa sekarang? apa yang ku lewatkan?,  itu yang terlintas setelah sekian lama tidak membuka laman ini.

Kalau di hitung memang sudah lebih dari setahun tanpa kabar dilaman ini, setelah tulisan terakhir aku di bulan februari 2016 lalu.

Banyak yang berubah setelah setahun kemarin rajin menulis tentang beberapa catatan kuliah, dan berhenti di kala urusan skripsi yang menyita waktu, pikiran dan perasaan (*eh).

Perubahan yang di sebut - sebut itu terasa setelah pernyataan lulus dari tiga penguji di dalam ruang sidang. hmm aneh rasanya keluar pintu kala itu dengan cap pengangguran. Meski sahabat - sahabat yang nunggu di depan ruang sidang menyambut dengan bahagia, tapi ya kok tetep aja rasanya jadi pengangguran tuh ga seneng. Yahh aku pikir lumayan lah minimal malam ini bisa tidur nyenyak, setelah tiap malam mimpiin skripsi terus.

Beberapa bulan setelah itu wisuda dan itu berarti sama saja perayaan hari pengangguran untuk aku pribadi, hehe. Meskipun aku sangat - sangat bersyukur bisa membanggakan papa dan mam juga di hari itu. Aku dan beberapa Wisudawan lainya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi dalam wisuda kali ini, yang otomatis perlakuan istimewa juga di berikan ke pada orang tua kami yang saat itu ikut menghadiri wisuda.

Singkat nya setelah itu aku diterima kerja di salah satu televisi swasta di Indonesia. Bahagia pastinya, karena impian sejak SMK ingin bekerja di televisi terkabul, apalagi ini adalah salah satu stasiun televisi yang punya integrasi terbesar di Indonesia (tau dong jawabanya, tanpa di sebut merk) hehe.

Pulomas - Kebon sirih adalah rute sehari - hari dari mulai bulan pertama yang berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam (yah kadang jam 10 malam karena sempet mampir ke TIM). Sampai berangkat pagi pulang dini hari, atau kadang berangkat dini hari pulang besok paginya (nah kalau ini gak ada waktu mampir ke TIM lagi), masa - masa seperti itu kadang suka dapet sms dari mama "ka mampir ke rumah lagi ga? atau langsung nginep di kantor?" hahahaha. Di tanya capek, gak terasa sama sekali yang ada setiap nonton program yang ada karya aku sendiri itu bangga banget, mungkin karena kepuasan nya disitu meskipun tiap tanggal 25 puas juga nengokin ATM hahaha.

Sebelumnya aku tidak pernah berfikir bahwa kisah cinta dengan pekerjaan ini akan berakhir, tapi ternyata penghujung sudah menghampiri. Aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang selama ini aku impikan. Sedih pastinya tapi ada tanggung jawab dunia akhirat yang harus aku penuhi, yaitu harus membantu papa dan mama.

Jadi anak tunggal yang di besarkan dengan pengaruh besar dari orang tua memang susah buat bilang "gak" kalau papa atau mama mengeluarkan perintah. Sedih rasanya kalau ngeliat mereka kecewa karena anaknya gak nurut.

Beberapa bulan memang agak berat setelah harus resign dari kantor, tapi sekarang sudah mulai terbiasa dan sekarang aku sudah mulai punya kesibukan baru dengan mengurus bisnis salon mama dan bisnis papa.

Di sela waktu luang juga aku isi dengan membuat video seputar makeup

Pelajaran yang aku dapat dari perjalanan ini adalah bisa membahagiakan orang tua dengan jadi anak yang nurut itu membuat hidup ini lebih bahagia loh. Itu alasanya mengapa kepentingan papa dan mama jadi prioritas nomor satu buat aku, karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah melihat mereka bahagia.


eh iya ini sekalian promosi channel youtube hehehe

https://www.youtube.com/channel/UCSMSNxmwHjUqhPQItstM5Mw/featured?view_as=subscriber



Share:

Wednesday, 7 October 2015

Semiotika

Semiologi atau semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan peotika. Akar namanya sendiri adalah “semeion”, nampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simptomatologio dan diagnostic inferensial (sinha, 1988: 3). “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain.
Aristoteles delam hal ini sangat dekat dengan konsep penanda semacam ini. Penggantinya, mazhab Stoa, mengelaborasinya kedalam sebuah teori penyimpulan yang ketat (Eco, 1984 : 15), bahwa tanda adalah sebuah proposisi yang dikonstitusi oleh koneksi yang valid dan menjelaskan kepada konsekuensinya. Jelaslah bahwa pada masa ini studi tentang tanda lebih mengarah pada operasi penalaran (logika) dan kemungkinan – kemungkinan pengetahuan (epistimologi). Ada catatan khusus terhadap Aristoteles yang mengaggap bahwa “pikiran” dapat di pertimbangkan sebagai “wakil – wakil dari hal – hal”, dan bahasa dalam hal ini adalah tanda dari pikiran. Aristoteles mengatakan bahwa kata – kata adalah “tanda – tanda dari afeksi – afeksi jiwa”. Aristoteles (Ross. 1928: 16a) menyatakan:
            “Spoken words are the signs of affections of the soul, and written words are the signs of spoken words. Just as all men have not same writing. So all men have not the same speech sounds, but the affections of the soul wich these signify are the same for all, as also are those things of which our experiences are images.”
Kata – kata tuturan adalah tanda – tanda dari afeksi – afeksi jiwa, dan kata – kata tulis adalah tanda – tanda dari kata – kata tuturan. Sebagaimana semua manusia tidak memiliki tulisan yang sama, demikian pula semua manusia tak memiliki suara tuturan yang sama, tetapi afeksi – afeksi jiwa yang ditandai oleh kata – kata tuturan adalah sama bagi segalanya, sebagaimana juga hal – hal dari pengalam – pengalam kita adalah imaji  - imaji.
Pada awalnya sejak kemunculan semiotika yang di diperkenalkan oleh Saussure dan Pierce, maka semiology menitik beratkan dirinya pada studi tentang tanda dan segala yang berkaitan dengannya.Meskipun dalam semiotika Peirce masih ada kecenderungan meneruskan tradisi Skolastik yang mengarah pada inferensi (pemikiran logis) dan Saussure menekankan pada linguistic, pada kenyatannya semiologi juga membahas signifikasi dan komunikasi yang terdapat dalam system tanda non linguistik.Sementara itu, bagi Barthes (1988: 179) semiologi hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal – hal (things).[1]

     Terma semiotik bukanlah istilah baru, istilah ini berasal dari kata Yunani, semion, yang berarti tanda atau dari kata semeiotikos , yang berarti teori tanda. Menurut Paul Colbey, kata dasar semiotik dapat pula diambil dari kata seme (Yunani) yang berati “penafsir tanda”. Akan tetapi, meskipun semiotik sudah dikenal sejak masa Yunani, sebagai salah satu cabang keilmuan, semiotik baru berkembang sekitar tahun 1900-an. Istilah keilmuan, semiotik pun digunakan pada abad ke-18 oleh Lembert, seorang filsif jeman. Selain Lembert, menurut R.H. Robin (1995: 258) terdapat beberapa ahli yang mempersoalkan tanda, yaitu Wilhelm von Humbolt dan Schliercher.
            Perbincangan sistematis semiotik menempati posisi signifikan dalam khaxanah ilmu pada abad ke-20, yaitu ketika logosentrisme menempati posisi penting dalam filsafat. Arus wacananya digulirkan dua tokoh founding father  semiotik, yaitu Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Pierce melalui karya anumerta. Meskipun hidup sezaman, kedua orang ini tidak saling mengenal karena tempat tinggal mereka berjauhan. Saussure berada di daratan Eropa, sedangkan Pierce berada di daratan amerika. Erus wacana semiotik yang mereka introdusir hampir bersamaan, sekalipun menyadarkan perinsip semiotik pada landasan yang berbeda hingga melahirkan konsep yang berbeda pula. Karena disiplik ilmu yang mereka tekuni berbeda, Pierce seorang pakar bidang linguistik dan logikam sedangkan Saussure seorang pakar linguistik modernm ada perbedaan mendasar dalam penerapan konsep – konsep semiotik sekarang ini.
            Berkat pemenemuannya dalam bidang semiotik, Ferdinand de Saussure (1875 – 1913) dinobatkan sebagai “Bapak Semiotika Modern” bersama – sama Charles Sanders Pierce (1839 – 1914). Semiotik pun menjadi yren dalam wacana pemikiran dengan lahirnya karya yang di beri lebel semiotik “sign” .[1]
Semiotika (juga disebut studi semiotik dan dalam tradisi Saussurean disebut semiologi) adalah studi tentang makna keputusan. Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dankomunikasi. Semiotika berkaitan erat dengan bidang linguistik, yang untuk sebagian, mempelajari struktur dan makna bahasa yang lebih spesifik. Namun, berbeda dari linguistik, semiotika juga mempelajari sistem-sistem tanda non-linguistik. Semiotika sering dibagi menjadi tiga cabang:
1.      Semantik: hubungan antara tanda dan hal-hal yang mereka lihat; denotata mereka, atau makna
2.      Sintaksis: hubungan antara tanda-tanda dalam struktur formal
3.      Pragmatik: hubungan antara tanda dan tanda-menggunakan agen
Semiotika sering dipandang memiliki dimensi antropologis penting; misalnya, Umberto Eco mengusulkan bahwa setiap fenomena budaya dapat dipelajari sebagai komunikasi.[2] Namun, beberapa ahli semiotik fokus pada dimensi logis dari ilmu pengetahuan. Mereka juga menguji area untuk ilmu kehidupan - seperti bagaimana membuat prediksi tentang organisme, dan beradaptasi, semiotik relung mereka di dunia (lihat semiosis). Secara umum, teori-teori semiotik mengambil tanda-tanda atau sistem tanda sebagai objek studi mereka: komunikasi informasi dalam organisme hidup tercakup dalam biosemiotik (termasuk zoosemiotik).
Sintaksis adalah cabang dari semiotika yang berhubungan dengan sifat-sifat formal tanda dan simbol.[3] Lebih tepatnya, Sintaksis berkaitan dengan "aturan yang mengatur bagaimana kata-kata digabungkan untuk membentuk frasa dan kalimat".
Charles Morris menambahkan bahwa semantik berkaitan dengan hubungan tanda-tanda untuk designata mereka dan benda-benda yang memungkinkan atau menunjukkan; dan, penawaran pragmatik dengan aspek biotik dari semiosis, yaitu dengan semua fenomena psikologis, biologis, dan sosiologis yang terjadi dalam fungsi tanda-tanda.
Dari semiotika Ferfinand de Saussere  kemudian hingga masuk kepada semiotika Charles Sanders Pierce, kemudian bermunculan para ahli semiotika yang menggunakan jenis paradigm yang sama dengan kedua penemu ini yaitu paradigm konstruktifis, lalu sampai pada era Roland Barthes yang memiliki perbedaan pada cara pandang memandang kasus semiotika ini, dimana Barthes memandang semiotika menggunakan paradigm kritis meskipun tak dipungkiri terkadang Barthes bermain di dua wilayah yakni konstruktifis seperti para pendahulunya dan kritis.

[1]Rusmana Dadan. 2014. Filsafat Semiotika. Bandung : Pustaka Setia. Hlm 20
[2]Caesar, Michael. 1999. Umberto Eco: Philosophy, Semiotics, and the Work of Fiction. Wiley-Blackwell. hlm. 55. ISBN 978-0-7456-0850-1.
[3]The American Heritage Dictionary of the English Language: Syntactics



[1]Kurniawan. 2001.Semiologi Roland Barthes. Jakarta : Indonesiatera. Hal 53
Share:

Wednesday, 30 September 2015

Trio Paradigma

Paradigma atau persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpertasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian dalam proses komunikasi. Untuk lebih memahami persepsi berikut adalah beberapa pengertian persepsi lainya:
1. Brian Fellows, Persepsi adalah proses yang memungkinkan suatu organisme menerima dan menganalisis informasi.
2. Kenneth A. Sereno dan Edward M. Bodaken, Persepsi adalah sarana yang memungkinkan kita memperoleh kesadaran akan sekeliling dan lingkungan kita.
3. Philip Goodacre dan Jennifer Follers, Persepsi adalah proses mental yang di gunakan untuk mengenali rangsangan melalui alat – alat panca indra.
4. Joseph A. Devito,  Persepsi adalah proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. [9]
Jadi pada dasarnya persepsi atau paradigma adalah cara bagaimana seseorang menginterpretasikan sebuah masalah atau fenomena, dalam hal ini akan dibahasnya menganai paradigma positivistik, konstruktivistik serta kritis. Ketiga paradigma ini dapat dianalogikan sebagai kaca mata, diamana ketiga kaca mata ini memiliki jenis dan lensa yang berbeda dengan begiu ketika kita melihat satu objek yang sama sekalipun dengan menggunakan ketiga jenis kaca mata ini bergantian otomatis objek yang sama tersebut akan terlihat berbeda dengan kaca mata yang berbeda, dengan demikiaan  begitu pula dengan cara kita melihat dan menginterpretasikan suatu masalah dengan kaca mata berbeda dan pemikiran berbeda maka akan menghasilkan sesuatu yang beda pula.

 Paradigma Positivistik
Positivistik atau dikenal sebagai paham positivisme dibidani oleh dua pemikir prancis, Henry Sain Simon (1760 – 1825) dan muridnya Auguste Comte (1798 – 1857). Henry merupakan penggagas utama sedangkan Comte adalah penerus pengembang gagasan ini.[10] Positivisme pada zaman itu dikembangkan unuk melawan fisafat negatuf dari para ahli filsuf yaitu mereka yang masih percaya terhadap khayalan metafisika, karena positivisme lebih cenderung kearah segala sesuatu harus berdasarkan bukti empiris dan masuk akal. Sedangkan di Austria pada tahun 1920 an para fisuf yang satu aliran dengan Comte mencoba mengembangkan paradigma positivisme ini yaitu positivisme logis diamana mereka mencoba mengubah pola pandang masyarakat dari yang primitiv ke yang lebih modern, diamana modernisasi ini di tandai dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang nyata dan logis bukan lagi segala sesatu hal yang mitos tanpa ada pembuktian ilmiah yang masuk akal terlebih dahulu.
Psitivisme yang berarti apa yang berdasarkan fakta objektif  ini secara tegas menyatakan dirinya adalah “Positif” yang berarti “nyata”. Dan tidak percaya terhadap sesuatu yang irasional. Misalnya: jika kita panaskan air hingga suhu 100º C maka air akan mendidih. Norma – norma positivisme adalah sebagai berikut:
·         Semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa – kepastian (Sanse Of Certainity) pengamatan sistematis yang terjamin secara intersubjektif
·         Kepastian Metodis sama pentingnya dengan rasa kepastian. Kesahihan pengetahuan ilmiah dijamin oleh kesatuan metode.
·         Ketepatan pengetahuan kita dijamin hanya oleh bangunan teori – teori yang secara formal dan kokoh yang mengikuti deduksi hipotesis – hipotesis yang menyerupai hukum
·         Pengetahuan ilmiah harus dapat dipergunakan secara teknis. Ilmu pengetahuan memungkinkan kontrol teknis atas proses – proses alam maupun sosial. Kekuatan kontrol atas alam dan masyarakat dapat dilipatgandakan ganya dengan mengakui asas – asas rasional. Bukan melalu perluasan buta dari riset empiris, melainkan melalui perkembangan dan penyatuan teori.
·         Pengetahuan kita pada prinsipnya tak pernah selesai dan relatif. Sesuai dengan sifat relatif dan semangat positif.[11]
Jadi, pada dasarnya secara epistimologis menyatakan bahwa positivisme dapat dikatagorikan sebagai realisme dan fondasionalisme epistimologis. Realisme epistimologis adalah pandangan yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan dapat menggambarkan kenyataan secara apadanya berdasarkan nalar rasional manusia.
Penggambaran paradigma positivistisme secara umum sudah dijelaskan diatas dan pada bagian ini saya akan mencoba mempersempit keranah komunikasi dimana ketika paradigma positivisme digunakan untuk mengkaji sebuah ilmu komunikasi. Paradigma positivisme mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses linier atau proses sebab akibat, yang mencerminkan pengirim pesan (komunikator, encoder) untuk mengubah pengetahuan (sikap prilaku) penerima pesan (komunikan, decoder) yang pasif.[12] Dalam definisi diatas tercermin bahwa paradigma positivisme cenderung menilai effek responden (komunikan) terhadap pesan yang dikirim oleh komunikator dengan cara menilai proses decoding seorang komunikan dan semua itu didapat berdasarkan hasil perhitungan angka yang nyata karena kembali lagi bahwa paradigma ini selalu mempertanyakan bukti empiris yang nyata dan bukti tersebut tercermin dalam angka – angka hasil perhitungan.
Model Komunikasi Schramm
Sumber. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Deddy Mulyana)
Dari model diatas dapat dijelaskan bahwa Interpreter (komunikan) yang dikaji dalam paradigma postivisme dan pengkajian ini menggunakan hasil dari decoding serta isi pesan. Yang artinya paradigma positivisme ini digunakan dalam metodelogi penelitian Kuantitatif  yang cenderung melihat effek Komunikan terhadap isi pesan.

Paradigma konstrutivistik
Konstrutivistik berasumsi bahwa tidak dapat terpisahnya subjek dan objek komunikasi hal ini bertolak belakang dengan paradigma positivistik yang berasumsi bahwa subjek dan objek komunikasi adalah dua hal yang dapat terpisahkan. Konstrutivisme diambil dari kata “konstruksi” yakni merancang, apa yang dirancang? Disini pesan yang dirancang jadi konstrutivisme disebut juga sebagai pengkajian terhadap Bagaimana pesan di konstruksikan atau di susun. misalnya dapat dilihat dari teori agenda setting bagaimana berita disusun pada sebuah program berita teresterial, segmen satu berisi tentang apa, segmen dua berisi tentang apa dan sebagainya. Diperkuat dengan pernyataan Von Glasersfeld dalam bukunya Bettencourt konstruktivisme adalah salah satu filsafat ilmu pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstrusi (bentukan) kita sendiri.[13]
Bertolak belakang dari paradigma positivisme, menurut Driver dan Bell ilmu pengetahuan bukan hanya kumpulan hukum atau daftar fakta. Ilmu pengetahuan, terutama sains, adalah ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dan konsepnya yang di temukan secara bebas (Einstein & Infeld dalam Bettencourt, 1989).[14] Dalam pernyataan ini sangat bertolak belakang dengan positivisme yang mewajibkan seluruh ilmu pengetahuan bila ingin diakui harus berdasarkan aspek rasional dan dengan bukti empiris yang tepat serta diuji berdasarkan sistematis.
Jika positivisme membicarakan mengenai komunikasi massa yang berlangsung satu arah, pada konstrutivisme cenderung kearah komunikasi antar personal yang menginginkan terjadinya komunikasi dua arah. menurut Robyn Penmann merangkum kaitan konstruktivisme dalam hubungan dengan komunikasi:
·         Tindakan komunikatif sifatnya sukarela. Pembuat komunikasi adalah subjek yang memiliki pilihan bebeas, walaupun lingkungan sosial membatasi apa yang dapat dan telah dilakukan. Jadi tindakan komunikatif dianggap sebagai tindakan suka rela, berdasarkan pilihan subjeknya
·         Pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan buka sesuatu yang objektif sebagaimana diyakini positivistme, melainkan diturunkan dari interaksi dalam kelompok sosial. Pengetahuan itu dapat ditemukan dalam bahasa, melalui bahasa itulah konstruksi realitas teripta.
·         Pengetahuan bersifat kontekstual, maksudnya pengetahuan merupakan produk yang dipengaruhi ruang waktu dan akan dapat berubah sesuai dengan pergeseran waktu.
·         Teori – teori menciptakan dunia. Teori bukanlah alat, melainkan suatu cara pandang yang ikut memengaruhi pada cara pandang kita terhadap realitas atau dalam batas tertentu teori menciptakan dunia. Dunia disini bukanlah “segala sesuatu yang ada” melainkan “segala sesuatu yang menjadi lingkungan hidup dan penghayatan hidup manusia”, jadi dunia dapat dikatakan sebagai hasil pemahaman manusia atas kenyataan diluar dirinya;
·         Pengetahuan bersifat syarat nilai.[15]
Model Komunikasi Schramm
Sumber. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Deddy Mulyana)
Dalam hal ini paradigma konstruktivisme lebih mengkaji soal pesan, dimana pesan di konstruksikan (dibentuk). Di dunia pertelevisian pesan disebut juga dengan teks dimana teks bukan hanyalah tulisan yang tercetak tetapi semua yang ada dalam layar kaca televisi mulai dari teks, audio, video bahkan grafis semuanya memiliki maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan keinginan komunikator agar dapat menyamakan persepsinya dengan komunikan. Meskipun pesan yang menjadi konsentrasi dalam paradigma konstrutivisme tetapi dalam hal ini encoding serta komunikator ikut menjadi pokok kajian demi menguak bagaimana pesan di konstruksikan.  Pengkonstruksian pesan berhubungan dengan faktor – faktor pengendali dan pembentukan pesan di balik layar seperti ada  lima  faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi dalam menentukan isi media (bandingkan dengan McQuail, 1987), sebagai berikut:
        Faktor individual. Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media. Level indivual melihat bagaimana pengaruh aspek-aspek personal dari pengelola media mempengaruhi pemberitaan yang akan ditampilkan kepada khalayak. Latar belakang individu seperti jenis kelamin, umur, atau agama, dan sedikit banyak mempengaruhi apa yang ditampilkan media. Latar belakang pendidikan, atau kecenderungan orientasi pada partai politik sedikit banyak bisa mempengaruhi profesionalisme dalam pemberitaan media.
       Rutinitas media, berhubungan dengan mekanisme dan proses penentuan berita. Setiap media umumnya mempunyai ukuran sendiri tentang apa yang disebut berita, apa ciri-ciri berita yang baik, atau apa kriteria kelayakan berita. Ukuran tersebut adalah rutinitas yang berlangsung tiap hari dan menjadi prosedur standar bagi pengelola media yang berada di dalamnya. Rutinitas media ini juga berhubungan dengan mekanisme bagaimana berita dibentuk. Ketika ada sebuah peristiwa penting yang harus diliput, bagaimana bentuk pendelegasian tugasnya, melalui proses dan tangan siapa saja tulisan sebelum sampai ke proses cetak, siapa penulisnya, siapa editornya, dan seterusnya.
       Organisasi. Level organisasi berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang ada dalam organisasi berita, ia sebaliknya hanya bagian kecil dari organisasi media itu . Masing-masing komponen dalam organisasi media bisa jadi mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Di dalam organisasi media, misalnya, selain bagian redaksi ada juga bagian pemasaran, bagian iklan, bagian sirkulasi, bagian umum, dan seterusnya. Masing-masing bagian tersebut tidak selalu sejalan. Mereka mempunyai tujuan dan target masing-masing, sekaligus strategi yang berbeda untuk mewujudkan target tersebut. Bagian redaksi misalnya menginginkan agar berita tertentu yang disajikan, tetapi bagian sirkulasi menginginkan agar berita lain yang ditonjolkan karena terbukti dapat menaikkan penjualan. Setiap organisasi berita, selain mempunyai banyak elemen juga mempunyai tujuan dan filosofi organisasi sendiri, berbagai elemen tersebut mempengaruhi bagaimana seharusnya wartawan bersikap, dan bagaimana juga seharusnya peristiwa disajikan dalam berita.
         Ekstra media. Level ini berhubungan dengan faktor lingkungan di luar media. Meskipun berada di luar organisasi media, hal-hal di luar organisasi media ini sedikit banyak dalam banyak kasus mempengaruhi pemberitaan media. Ada beberapa faktor yang termasuk dalam lingkungan di luar media:
        Sumber berita. Sumber berita di sini dipandang bukanlah sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya, ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan: memenangkan opini publik, atau memberi citra tertentu kepada khalayak, dan seterusnya. Sebagai pihak yang mempunyai kepentingan, sumber berita tentu memberlakukan politik pemberitaan. Ia akan memberikan informasi yang sekiranya baik bagi dirinya, dan mengembargo informasi yang tidak baik bagi dirinya. Kepentingan sumber berita ini sering kali tidak disadari oleh media.
          Sumber penghasilan media, berupa iklan, bisa juga berupa pelanggan/pembeli media. Media harus survive, dan untuk bertahan hidup kadangkala media harus berkompromi dengan sumber daya yang menghidupi mereka. Misalnya media tertentu tidak memberitakan kasus tertentu yang berhubungan dengan pengiklan. Pihak pengiklan juga mempunyai strategi untuk memaksakan versinya pada media. Ia tentu saja ingin kepentingannya dipenuhi, itu dilakukan di antaranya dengan cara memaksa media mengembargo berita yang buruk bagi mereka. Pelanggan dalam banyak hal juga ikut mewarnai pemberitaan media. Tema tertentu yang menarik dan terbukti mendongkrak penjualan, akan terus-menerus diliput oleh media. Media tidak akan menyia-nyiakan momentum peristiwa yang disenangi oleh khalayak.
          Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Pengaruh ini sangat ditentukan oleh corak dari masing-masing lingkungan eksternal media (baca teori normatif komunikasi massa, dan teori makro). Dalam negara yang otoriter misalnya, pengaruh pemerintah menjadi faktor yang dominan dalam menentukan berita apa yang disajikan. Keadaan ini tentu saja berbeda di negara yang demokratis dan menganut liberalisme. Campur tangan negara praktis tidak ada, justru pengaruh yang besar terletak pada lingkungan pasar dan bisnis.
              Ideologi, diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan elemen sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas.
Inilah yang dapat membentuk pesan (teks) sesuai agenda media, misalnya kita lihat dari bagaimana berita di bentuk mulai dari pendelegasian reporter dan camera person oleh kordinator liputan kelapangan hingga berita tersebut sampai dimeja redaksi dan dieksekusi yang disebut juga news judgement, pada tahapan ini pimpinan redaksi dan kultur media bermain jika pemilik media memiliki kecenderungan pada suatu kelompok maka media tersebut tidak akan menayangkan berita mengenai hal – hal apasajakah yang dapat memperburuk citra kelompoknya.

Paradigma Kritis
Paradigma kritis atau teori kritik masyarakat (Kritische Theorie der Gesellschaft) adalah produk dari sekolompok neo – marxis jerman yang tidak puas terhadap teori marxian (Bernstein, 1995; Kellner 1993).[16] Pada awalnya teori kritis lahir atas dasar kritik atas kapitalisme dan determinasi oleh para kaum marjinal. Akan tetapi saat ini teori kritis sudah menyebar di berbagai aspek seperti kritik atas positivisme yang disebut sebagai post – positivisme, kritik atas sosiologi, serta kritik atas masyarakat modern.
Dalam ilmu komunikasi yang dihubungkan dengan teori kritis, bahwa telah terjadi pengkritikan terhadap paradigma konstrutivisme yang kurang sensitif terhadap proses produksi dan reproduksi makna, konstrutivisme hanya berkonsentrasi pada pembentukan teks akan tetapi teori kritis lebih dalam lagi yakni memiliki konsentrasi pada komunikator lebih tepatnya pembongkaran ideologi komunikator, bukan lagi pembongkaran atas motiv komunikator tetapi ke tahta lebih tingginya yakni sebuah ideologi. Bukan sekedar bagaimana pesan tersebut di konstruksikan tapi bagaimana dibalik pesan tersebut terdapat pemaknaan yang tersimpan. 

Model Komunikasi Schramm
Sumber. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Deddy Mulyana)
Pada gambar diatas terlihat lingkaran merah tersebut adalah konsentrasi dalam paradigma kritis yaitu komunikator, pendalaman mengenai ideologi yang di bongkar ini perlu adanya bantuan dari isi pesan, decoding serta proses encodingnya. Jika dihubungkan dengan komunikasi dalam politik bahwa setiap komunikasi pasti memiliki motiv didalamnya. Bedakah dengan konstruktivisme? Jelas beda, jika konstruktivisme lebih kepada bagaimana pesan dibentuk dan kritis lebih kepada pembongkaran ideologi komunikator bukan sekedar pesan tetapi lebih mendalam soal itu.

Paradigma kritis atau teori kritik masyarakat (Kritische Theorie der Gesellschaft) adalah produk dari sekolompok neo – marxis jerman yang tidak puas terhadap teori marxian (Bernstein, 1995; Kellner 1993).[1]Pada awalnya teori kritis lahir atas dasar kritik atas kapitalisme dan determinasi oleh para kaum marjinal.Akan tetapi saat ini teori kritis sudah menyebar di berbagai aspek seperti kritik atas positivisme yang disebut sebagai post – positivisme, kritik atas sosiologi, serta kritik atas masyarakat modern.
Dalam ilmu komunikasi yang dihubungkan dengan teori kritis, bahwa telah terjadi pengkritikan terhadap paradigma konstrutivisme yang kurang sensitif terhadap proses produksi dan reproduksi makna, konstrutivisme hanya berkonsentrasi pada pembentukan teks akan tetapi teori kritis lebih dalam lagi yakni memiliki konsentrasi pada komunikator lebih tepatnya pembongkaran ideologi komunikator, bukan lagi pembongkaran atas motiv komunikator tetapi ke tahta lebih tingginya yakni sebuah ideologi. Bukan sekedar bagaimana pesan tersebut di konstruksikan tapi bagaimana dibalik pesan tersebut terdapat pemaknaan yang tersimpan.
Jurgen Habermas adalah salah seorang tokoh dari Filsafat Kritis. Ciri khas dari filsafat kritisnya adalah, bahwa ia selalu berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan-hubungan sosial yang nyata. Pemikiran kritis merefleksikan masyarakat serta dirinya sendiri dalam konteks dialektika struktur-struktur penindasan dan emansipasi. Filsafat ini tidak mengisolasikan diri dalam menara gading teori murni. Pemikiran kritis merasa diri bertanggung jawab terhadap keadaan sosial yang nyata[2]
Aliran pemikiran kritis ini mulai berkembang sekitar tahun dua puluhan. Tokoh-tokohnya antara lain Georg Lukacs, Karl Korsch, Ernst Bloch, Antonio Gramsci dan seterusnya. Salah satu aliran dalam pemikiran kritis adalah Teori Kritis Masyarakat. Teori Kritis ini dikembangkan sejak tahun 30-an oleh tokoh-tokoh yang semula bekerja di Institut fur Sozialforschung pada Universitas Frankfurt. Mereka itu adalah Marx Horkheimer, Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse serta anggota-anggota lainnya. Kelompok ini kemudian dikenal dengan sebutan “Mazhab Frankfurt”[3]
Jugern Habermas adalah pewaris dan pembaharu Teori Kritis. Meskipun ia sendiri tidak lagi dapat dikatakan termasuk Mazhab Frankfurt, arah penelitian Habermas justru membuat subur gaya pemikiran “Frankfurt” itu bagi filsafat dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Uraian singkat ini akan mencoba menelusuri perkembangan pemikirannya
Dengan begitu peneliti memilih menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma kritis karena peneliti ingin mengungkapkan ideologi apa yang sebenarnya diusung oleh subjek kajian yaitu dalam hal ini adalah program televisi. Selain usungan itu peneliti ingin mengungkap ideologi apa yang ingin di terapkan kepada masyarakat agar masyarat terpengaruh. Hal – hal ini dapat dilihat dari teks – teks yang di tampilkan oleh awak media. Teks tersebut bukan berarti hanya tulisan tetapi segala bentuk tanda seperti raut muka, bahasa tubuh, cara berpakaian, pemilihan bahasam suara latar dan sebagainya yang dihadirkan dilayar kaca.



[1]Syaiful Halim. .Postkomodikasi Media. (Yogyakarta; Jalasutra,2013). Hal 13
[2]Franz Magnis-Suseno. 1992.  Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius. Hal 176.
[3] Ibid. Hlm 177
Share: